Gue benci jerawat di hidung. Tapi lebih dari itu, gue lebih benci sama kemacetan yang nggak kelar-kelar.
Gue benci bau kentut. Tapi lebih dari itu, gue lebih benci sama polusi yang makin parah dari hari ke hari.
Gue benci kalo ngobrol sama orang yang suka muncrat-muncrat. Tapi lebih dari itu, gue lebih benci banjir yang terjadi dari tahun ke tahun di kota ini.
Gue benci sama beberapa orang mantan. Tapi lebih dari itu, gue lebih benci sama ormas-ormas bayaran yang mengatas-namakan agama atau golongan tertentu untuk berbuat seenaknya.
pict from antaranews.com
11 Juli 2012, adalah hari di mana seluruh manusia yang telah
memegang KTP Jakarta, menunaikan tugasnya untuk memilih pemimpin mereka
untuk lima tahun ke depan di TPS-TPS yang sudah anteng berdiri di
sudut-sudut tempat tinggal kita.
Mulai dari pemuda, pemudi, om-om, tante-tante, kakek-kakek, nenek-nenek, bahkan mamah-mamah muda, baik yang udah move on ataupun belum, baik yang jarang mandi ataupun tidak, diharapkan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin yang dikehendakinya, yang pas di hati masing-masing.
Mulai dari pemuda, pemudi, om-om, tante-tante, kakek-kakek, nenek-nenek, bahkan mamah-mamah muda, baik yang udah move on ataupun belum, baik yang jarang mandi ataupun tidak, diharapkan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin yang dikehendakinya, yang pas di hati masing-masing.
Ada enam pasang calon gubernur dan wakilnya yang bisa dipilih. Mereka
masing-masing punya janji-janji dan jargon kampanye masing-masing,
selain itu mereka juga punya cara-cara dan strategi sendiri buat meraup
calon pemilih. Ada yang turun ke grass-roots, ada yang giat di social media, adapula yang memaksimalkan kader dari partai pendukungnya. Gosipnya juga ada yang minta restu sama dukun dan paranormal.
Gue curiga, ini mau nyalonin jadi gubernur apa mau guna-gunain mantan.
Gue curiga, ini mau nyalonin jadi gubernur apa mau guna-gunain mantan.
Lanjut.. Berbagai macam janji-janji manis nggak lupa diberikan kepada
calon pemilih. Mulai dari janji menguraikan macet, menuntaskan banjir,
membenahi birokrasi, membangun infrastruktur yang layak dan lain
sebagainya.
Yep. Para cagub dan cawagub di masa kampanyenya ini memang nggak lebih seperti orang-orang yang naksir kita di masa PDKT. Beginilah, begitulah, janjiin inilah, janjiin itulah. Dan semua memang terlihat hebat dan terlihat benar. Nggak peduli apapun masa lalu mereka. Nggak peduli apapun latar belakang mereka. Cagub dan cawagub layaknya seorang player handal yang jago nyepik buat menyakinkan buruannya. Dan kadang mereka melakukan segala cara dan upaya. Ada yang baik, ada juga yang curang.
Namun nggak peduli seberapa besarpun rasa tidak percaya kita pada
mereka, kita tetap harus memilih. Memilih yang paling baik, yang punya
kemungkinan paling besar buat nggak ngecewain kita, yang pada akhirnya
bisa bikin kita bahagia.
Namun ketika pilihan kita akhirnya salah, kita harus ingat, politisi
busuk dan pacar brengsek itu memang selalu ada di mana-mana, di kota
ataupun di desa. Mereka tersebar secara merata kayak penyebaran orang
galau di musim penghujan. Tapi kalau ternyata kenyataan itu muncul
setelah kita sudah memilih yang terbaik, ya mungkin memang kita aja yang
sial kali ini dan pilihan kita yang memang nggak bener.
Gue sebagai pendatang dari daerah, pengen banget lihat ini Jakarta bisa
jadi kota yang lebih pantas untuk ditinggali. Yang bebas dari macet dan
banjir, bisa terlepas dari polusi yang kebablasan, dan bisa memberi
kehidupan yang layak bagi siapapun yang bernaung di bawah langitnya.
Gue juga pengen lihat lebih banyak senyum keluar dari masing-masing
bibir kita ketika berada di jalanan, lebih banyak sapaan ramah tanpa
harus saling mencurigai, lebih banyak kata maaf dan terima kasih ketika
berinteraksi antar sesama. Seperti yang sering diajarkan di buku PPKn
atau PMP jaman SD dulu. Toleransi, tenggang rasa, gorong royong dan bla
bla.
Juga satu lagi, gue berharap uang kos bisa diturunin siapapun gubernurnya (kemudian digebuk Ibu kos).
Well.. Cakep kan yak kalo begitu?
Lepas dari siapapun pemimpin yang akhirnya terpilih nanti, berhasil atau
tidaknya Jakarta ini tergantung kita-kita juga yang hidup di dalamnya.
Kalau karakter rakyatnya masih kayak sekarang ini, gue yakin Jakarta
bisa jadi kota yang lebih layak sekitar 3500 tahun lagi.
Oke, itu barusan lebay. Tapi ya emang sih, baik atau nggaknya Jakarta ke depan, itu lebih tergantung pada kita sebagai penghuninya, dan tidak sepenuhnya pada si pemimpin yang terpilih nanti. Iya nggak? (nyengir)
Oke, itu barusan lebay. Tapi ya emang sih, baik atau nggaknya Jakarta ke depan, itu lebih tergantung pada kita sebagai penghuninya, dan tidak sepenuhnya pada si pemimpin yang terpilih nanti. Iya nggak? (nyengir)
Jadi gunakan hak pilih yang kamu punya. Saran gue jangan
dateng subuh-subuh, karena TPS-nya pasti belom buka. Jangan lupa juga
untuk berdoa dan ikut berusaha membangun Jakarta siapapun pemimpinnya.
Semoga kota kita ini bisa jadi tempat yang lebih baik dan nyaman untuk kita tinggali bersama.
Semoga kota kita ini bisa jadi tempat yang lebih baik dan nyaman untuk kita tinggali bersama.
Amin.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen donk